Oleh: Suhardi Duka
JAKARTA–Kabar mengejutkan itu datang. Pagi-pagi betul, kabar duka itu sampai ke saya. Pak Salim S Mengga telah meninggalkan saya, meninggalkan kita semua.
Kabar berpulangnya Pak Salim jelas bikin saya shock. Baru beberapa hari lalu saya sempat menjenguk beliau dengan kondisinya yang berangsur membaik usai operasi lutut yang ia lakoni di salah satu rumah sakit di Makassar.
Pak Salim yang telah kembali ke haribaan Ilahi meninggalkan duka mendalam bagi saya, bagi seluruh masyarakat Sulawesi Barat. Betapa tidak, selama bersama beliau, tak ada satu hal negatif pun yang saya temui dari beliau.
Beliau sebagai wakil gubernur adalah sosok yang ideal bagi saya. Sosok yang telah saya anggap sebagai orang tua, sekaligus sebagai kakak. Tak ada satu pun kebijakan krusial yang saya ambil tanpa melibatkan beliau. Saya dan Pak Salim adalah dwitunggal, begitu yang selalu saya sampaikan di beberapa kesempatan.
Saya ingat betul, di fase awal saat kami berdua hendak berpasangan di Pilkada yang lalu. Saat ragam pertanyaan muncul di benak saya kala itu. ‘Bagaimana mungkin saya berani mengajak Pak Salim untuk menjadi wakil saya ?’, kira-kira pertanyaan itu yang berkelindan di pikiran saya.
Hingga di ujung saat beliau menegaskan kesediaannya mendampingi saya dengan sejumlah pertimbangan. Sesuatu yang membuat saya berkesimpulan bahwa beliau memang sudah berada di fase puncak dari apa yang disebut sebagai pengabdian.
Dalam diri Pak Salim, melekat sosok seorang jenderal, tokoh masyarakat, tokoh agama. Sederet atribut yang bikin beliau selalu berhasil tampil sebagai figur yang sangat kuat. Ucapannya selau jelas, tegas dan penuh makna.
Tak pernah sedikit pun saya memposisikan Pak Salim sebagai seorang ‘wakil’. Saya dan beliau adalah satu tubuh dalam memimpin daerah. Keputusan gubernur adalah keputusan wakil gubernur, demikian pula sebaliknya. Penegasan yang sering saya sampaikan di depan khalayak.
Ada setumpuk kesan mendalam saat bersama beliau menahkodai Sulawesi Barat. Saat kami wajib untuk merealisasikan visi Sulawesi Barat yang maju dan sejahtera seperti yang kami janjikan. Dalam perjalanannya, semakin penghargaan dan kepercayaan itu saya berikan ke Pak Salim, rasa-rasanya beliau membalasnya dengan menghujani saya berlipat kali penghargaan dan kepercayaan.
Sebuah hubungan yang menutup celah perbedaan bagi kami berdua untuk berpeda pandangan dalam menjalankan roda pemerintahan. Itu yang benar-benar membuat saya kehilangan.
Bukan berlebihan jika saya menganalogikan kepergian Pak Salim, ibarat satu rumah besar bernama Sulawesi Barat yang kehilangan salah satu tiang penyangganya. Betapa beliau punya peran yang sangat berarti bagi saya, bagi masyarakat Sulawesi Barat.
Pak Salim, sosok yang teduh dalam setiap petuahnya. Tegas dalam sikap dan prinsip, sederhana, serta amanah pada tugas, tanggung jawab dan pengabdian. Saya kehilangan salah satu kepingan penting dalam hidup, pun dengan Provinsi Sulawesi Barat yang kini larut dalam duka. Entah akan seperti apa adik mu ini menjalani hari, memimpin daerah tanpa kehadiran mu.
Selamat jalan Daeng, sampai ketemu di keabadian. (*)

