MAMUJU, INISULBAR.COM, – Perekonomian Sulawesi Barat (Sulbar) tumbuh sebesar 5,20 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026. Capaian tersebut melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 5,35 persen, seiring normalisasi konsumsi masyarakat pasca-Ramadan dan Idulfitri.
Hal itu disampaikan Plt Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulbar, Sofyan Rendy Ardiansyah, pada kegiatan Sipakada Media di Mamuju, Kamis (24/9/2026).
Menurut Rendy, perlambatan tersebut sejalan dengan tren nasional usai berakhirnya momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri yang sebelumnya mendorong konsumsi.
“Ketika di triwulan I kita merasakan HBKN Idulfitri, itu meningkatkan konsumsi masyarakat. Namun begitu HBKN selesai, terjadi pengurangan konsumsi sehingga ikut menurunkan pertumbuhan ekonomi yang ada di Sulbar,” ujar Rendy.
Dari sisi lapangan usaha, perlambatan terutama terjadi pada tiga sektor utama, yakni pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan.
Sektor pertanian melambat akibat menurunnya produksi kelapa sawit, yang memiliki kontribusi besar terhadap struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulbar.
“Struktur PDRB kita hampir setengahnya berasal dari sektor pertanian. Produksi utama kita ada di sektor sawit. Pada triwulan II terjadi perlambatan produksi kelapa sawit,” jelasnya.
Selain sawit, produksi perikanan juga tertekan akibat dinamika gelombang laut. Sejumlah nelayan bahkan harus melaut hingga sekitar 80 mil dari garis pantai untuk mendapatkan ikan.
Perlambatan pertanian berdampak lanjutan ke industri pengolahan melalui berkurangnya pasokan tandan buah segar (TBS) yang memengaruhi produksi crude palm oil (CPO) dan turunannya. Sektor perdagangan juga terdampak perlambatan distribusi komoditas pertanian.
Namun tidak semua sektor melambat. Sektor konstruksi justru meningkat didorong proyek infrastruktur jalan dan jembatan, sementara administrasi pemerintahan tumbuh seiring pembayaran gaji ke-13 ASN.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah menjadi penahan laju pertumbuhan akibat normalisasi pasca-Idulfitri dan berkurangnya social transfer in kind (STIK).
Di sisi lain, ekspor dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih tumbuh. Kenaikan harga CPO global akibat dinamika geopolitik turut mendorong nilai ekspor Sulbar.
“Ketika ada dinamika geopolitik, ternyata secara tidak langsung juga mendongkrak harga CPO dunia. Akibatnya dari sisi ekspor, harga CPO kita juga ikut meningkat di triwulan II,” kata Rendy.
BI Sulbar mendorong penguatan produktivitas pertanian dan ketersediaan bahan baku, peningkatan investasi infrastruktur, serta penguatan daya beli untuk menjaga kesinambungan ekonomi.
Meski melambat, BI Sulbar memproyeksikan ekonomi Sulbar hingga akhir 2026 tetap di kisaran 5,20-6,20 persen secara kumulatif, dengan peluang penguatan pada paruh kedua.
“Peluang pertumbuhan perlu diikuti dengan penguatan pasokan, produktivitas dan konektivitas. Pengelolaan risiko juga diperlukan agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih efisien dan luas,” pungkasnya.
Memasuki 2027, konektivitas dinilai menjadi elemen penting memperkuat pertumbuhan.
Selain pertumbuhan ekonomi, BI Sulbar juga mencermati inflasi. Pada Agustus 2026, Sulbar mencatat inflasi bulanan 0,11 persen, inflasi tahunan 2,29 persen, dan inflasi tahun kalender 2,28 persen.
Kenaikan harga terjadi pada ikan cakalang, ikan kembung, cabai rawit, pisang dan telur akibat pasokan terbatas. Sebaliknya, tomat, bawang merah, cabai merah dan bawang putih mengalami deflasi karena pasokan dari sentra produksi meningkat.
Secara spasial, Mamuju mengalami inflasi 0,51 persen, sedangkan Majene deflasi 0,16 persen pada Agustus 2026, menunjukkan pentingnya pemantauan spesifik per wilayah.
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menerapkan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, melalui pasar murah, operasi pasar, pendampingan klaster UMKM pangan, serta kerja sama antardaerah. (*)

